WHAT WE LEARN FROM JABODETABEK-WEST JAVA BLACKOUT

Minggu siang, waktunya untuk quality time bersama keluarga (anak). Seperti keluarga yang lain, saya pun berencana untuk quality time bareng anak, yang sudah dari beberapa minggu merengek ingin main ke rumah sepupunya di Bintaro.

Sepulang dari latihan panahan, anak saya pun bersiap untuk pergi bersama saya. Jam setengah duabelas deh, katanya. Saya pun mengorder transportasi online untuk mengantar kami. Beberapa menit setelahnya, listrik padam.

Okeee… batin saya. Ini sudah langganan di area komplek saya mengalami mati listrik. Kocaknya, kadang yang mati listriknya hanya rumah saya, dan tetangga kiri saya. Sudah bertahun-tahun begitu. Apa ada tindakan dari PLN? Nggak juga tuh. Karena kejadian seperti ini terus berulang, sampai saya lelah menghabiskan energi melaporkan kejadian ini ke customer care (I don’t think they really care afterall, ya nggak?) PLN. But what the hey, kita memang nggak punya pilihan, harus manut sama Perusahaan Listrik Milik Negara ini. Kalau nggak manut ya, monggo pindah negara aja.

Di perjalanan, saya masih nggak ngeh dengan situasi yang terjadi. Cuma membatin kok, sinyal HP saya mati juga. Dasar HP minta dilembiru, pikir saya. Saya restart. Eh… sama juga. Oh well, ya sudah. Sesampainya di rumah sepupu yang jaraknya cuma sekitar 4 km, saya pun menyuruh anak saya untuk membunyikan bel. Lho… ga bunyi?

Di situlah saya baru sadar kalau ternyata di area rumah sepupu pun listriknya mati. Dan setelah masuk rumah, informasinya pun makin lengkap, karena ternyata ini kondisi yang sungguh luas: semua area se Jabodetabek mati. Kakak saya malah bilang, “katanya sampai se pulau Jawa dan Bali juga, lho!” Waduh! Ternyata nggak separah itu deng, “cuma” sebatas Jabodetabek dan Jawa Barat. Tetep aja ya… gondok. 

Pupus sudah harapan saya untuk ngadem, juga harapan anak saya untuk main komputer dan PS. Mangkel? Iya lah. Mana baterai HP saya sudah mulai ngos-ngosan, gimana nih, kalau sampai mati total?

Problem berikutnya adalah, kami mau memesan layanan antar makanan lewat transportasi online. Nggak bisa dong… kan semua sinyal telepon pun mati. Terpaksa, menyalakan mobil untuk pergi beli makanan. Dan kabar-kabar selanjutnya, ATM mati, semua transaksi harus tunai.

Ah, sialan. Setelah lama dimanjakan dengan segala dompet digital dan transaksi cashless, membawa uang tunai menjadi terpinggirkan. Saya pun sempat mengalami, untuk membayar parkir tunai saja sempat kesulitan karena di dompet benar-benar tidak ada uang tunai; hanya kartu-kartu saja, dan aplikasi-aplikasi di HP saja. Oh, no…!

Berjam-jam berlalu. Anak-anak yang biasanya nggak ngobrol karena sibuk dengan gadget masing-masing, ternyata mulai berubah. Mereka tertarik untuk main congklak, permainan yang biasanya sama sekali tidak dilirik sama sekali. Setelah saya beri tahu caranya, mereka pun main. Lumayan, mereka bisa bertahan selama beberapa babak. Harus disyukuri lah.

Setelah bosan, akhirnya anak saya beralih ke bola. Iseng-iseng dia menendang-nendang bola di halaman, sampai akhirnya sepupunya pun mengajak main bola. Wah, mereka bakal keringetan nih, pikir saya. Tapi ya sudah lah… jarang-jarang mereka bermain fisik macam ini. Ide selanjutnya adalah, sang Sepupu mengajak main kembang api. Ahahaha… sisa dari perayaan tahun baru yang mangkrak karena dia nggak ada teman untuk main. Anak saya yang awalnya takut-takut memegang stik kembang api, akhirnya belajar kalau kembang api itu aman, tidak meletus layaknya petasan, dan seru. Dia akhirnya juga berani beraksi, memutar-mutar stik kembang apinya dengan rasa percaya diri (kan Mama juga sudah bilang, percikan apinya nggak bakal kena tangan kok!). Hehe…

So, hikmah di balik panas-panasan tanpa listrik:

  • Belajar permainan tradisional bersama sepupu
  • Berani main kembang api
  • Lebih banyak mengobrol dengan sepupu dan oom-tante, jadi nggak diam-diaman seperti biasa.

Lalu kapan nyalanya?

Jam setengah enam sore, listrik kembali menyala. Alhamdulillah. Kami pun buru-buru mandi, dan lumayan bisa ngadem. Saya pun berniat untuk pulang. Eh… dapat 1,5 jam… mati lagi dong listriknya. Gelap total! Waduh, nyamuk-nyamuk pun mulai bergerilya cari mangsa. Sialan!

Untungnya, sore kami masih kebagian beberapa pack lilin. Itu pun setelah berjuang keras, lho…! Di pusat perbelanjaan pun terjadi chaos, karena semua transaksi harus tunai. Orang-orang yang sudah menumpuk barang di troli terpaksa harus gigit jari dan mengembalikan belanjaannya, juga repot merogoh dompet untuk membayar tunai. Nobody brings cash anymore, people! Bisa dibilang, kami semua serasa kere mendadak. Punya uang tapi nggak punya uang. KZL tingkat dewa!

Jam delapan malam, listrik pun menyala lagi. Modal pede aja, saya dan anak pun pulang. Karena tidak bisa mengorder transportasi online maupun taksi, akhirnya kakak pun terpaksa mengantar dengan mobil (maaf ya, merepotkan!).

Agaknya belum selesai sampai di situ ceritanya. Masuk ke area di luar kompleks, lho… kok gelap? Ternyata, listrik belum menyala secara merata. Kompleks-kompleks besar yang didahulukan, dan yang di perkampungan dinyalakan bertahap. Matek deh… saya kan tinggal di kampong ya…. Dan benar. Masuk ke area komplek saya, masih gelap. Manyun lagi deh. Beruntung, emergency light di rumah saya masih bertahan, meski sudah kriyep-kriyep.

Kipas manual pun dikeluarkan. Sambil leyeh-leyeh di tempat tidur, saya pun sibuk mengipas-ngipas, ditemani si Kumil, puss saya yang akhir-akhir ini maunya deketan sama saya. Hembusan angin dari kipas manual pun rasanya seperti surga. Adem. Meski tangan pegel. Alhamdulillahnya… jam 9.15 malam pun lampu kembali menyala. Bertahan sampai pagi. Syukurlah.

Lalu apa klarifikasi dari Dewa Listrik?

Beredarlah ucapan maaf dan kronologi situasi yang sumpah saya nggak paham, yang intinya ya pokoknya pasokan listrik terganggu. Penyebabnya apa? Ya embuh, nggak dijelaskan di situ. Tapi klimaksnya dong… pelanggan dimohon untuk sabar dan ikhlas.

IKHLAS YAAA??? Kamu sudah merugikan banyak pihak. Gimana dengan rumah-rumah sakit, orang-orang yang tergantung pada pasokan listrik untuk aliran oksigen atau perangkat kesehatan lainnya? Orang yang harus menjalani operasi, dan sebagainya? Berapa kerugian yang sudah muncul dengan padamnya listrik 9 jam itu? Berapa bahan bakar yang terpaksa harus disediakan untuk menyalakan genset?

Kita orang Indonesia mah dididik untuk sabar tok, ikhlas tok. Tapi dari sejak jaman kolobendu, kayaknya perusahaan milik negara memang tidak pernah bisa memberikan layanan yang optimal. Semua kentang, semua serba nanggung.

Dan hingga saya menulis ini pun, listrik di sebagian daerah masih megap-megap. Kalau di negara lain para menterinya merasa bersalah dan menyatakan mundur karena sudah tidak bisa perform, di sini mah cuma bisa mengirim pesan WA meminta maaf dan meminta keikhlasan. Pahala kami harusnya stoknya banyak ya, ikhlas dan sabar terus kok…! Nggak ada tuh, pejabat yang merasa malu hati dan tahu diri untuk menyerahkan jabatannya kepada yang dianggap lebih kompeten. Sepertinya kita memang harus terima-terima saja, menganggap ini sebagai cobaan, yang ya sudah, ditelan saja.

Jayalah negeri ini.

4 thoughts on “WHAT WE LEARN FROM JABODETABEK-WEST JAVA BLACKOUT”

  1. I was curious if you ever considered changing the layout of your website? Its very well written; I love what youve got to say. But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better. Youve got an awful lot of text for only having one or two images. Maybe you could space it out better?|

  2. Hi there! I know this is kinda off topic but I was wondering which blog platform are you using for this site? I’m getting fed up of WordPress because I’ve had issues with hackers and I’m looking at alternatives for another platform. I would be fantastic if you could point me in the direction of a good platform.|

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *