Why “Sleepless in Seattle” is Amazing (for me)

It got me good. Every single time.

Hari ini, August 27, 2019, saya tertarik membaca salah satu artikel di The Cut, karya Maggie Fremont yang judulnya “I Think About This a Lot: Tom Hanks’s Best Line in Sleepless in Seattle”. Gara-gara artikel ini juga, saya jadi ikut mikir, hmmm, saya kan juga penggemar film ini ya, apa yang saya paling ingat dari film ini?

Saya ingat betul nonton film ini di 21 di Internusa, Bogor (ya ampun, zaman kapan itu…) bareng 2 teman sekuliah. Nggak sangka juga, saya terkesan dengan film ini. Dari pemainnya, jalan ceritanya, juga setting-nya. Dan sejak saat itu juga saya kalau sudah dihitung-hitung sudah ratusan kali nonton film ini. Dan nggak bosen juga. Melihat akting Tom Hanks yang jadi duda satu anak, yang sulit move-on sejak ditinggal mendiang istrinya, lalu di sisi lain ada kisah hidup Meg Ryan yang galau karena akan menikah.

Saya ingat kalau di momen yang sama, yaitu momen di Empire State Building, di momen  dari Tom Hanks, saya pasti nangis. Selalu. Every single time. Call me cheezy or whatever, nggak peduli. Ini soal saya dan film itu. That’s it. “Sleepless in Seattle” punya pesona tersendiri di hati saya.

Maggie ternyata punya kemiripan dengan saya, selalu teringat best lines dari film ini, walaupun dia bukan seorang ayah (ya kayaknya dia perempuan sih…), dan tidak punya anak. Hmmm… apa lagi lines yang membekas di ingatan saya ya, dari film ini? In random order yes, gila kali kalau harus time-coded, hehe!

  • It’s like… magic. Ini waktu Hanks akhirnya curhat ke penyiar radio gara-gara anaknya nelepon ke salah satu program acara konsultasi. Dan Meg Ryan (nama karakternya Annie) yang lagi nyetir ke rumah orangtuanya Walter (her fiancée), nggak sengaja tune in and became hooked with the program. It’s true. It’s like… magic.
  • You’ve all I got. Line ini juga diamini oleh Maggie di artikelnya. Momen Hanks (namanya Sam… ya ampun.) bisa nemuin Jonah di Empire State Building. Namanya orangtua ya, kekhawatiran kehilangan anak sudah tentu nyeseknya sampai ke ubun-ubun. Dari Seattle ke New York pula. Saya aja yang pernah nyaris kehilangan si Bocil yang ngeloyor mau lihat mobil di parkiran, rasanya sudah lemes banget. Yes, you’ve all I got. Hiyy… amit-amit ya, kalau sampai kepisah sama anak.
  • H & G. Ini momen Jonah dan tetangganya (cewek), playdate di rumah Jonah. Di usia-usia preteen, anak-anak biasanya punya gaya sendiri, juga slank sendiri. Di sini, si Anak Tetangga ini senang menyingkat-nyingkat kata, salah satunya ini. Artinya “Hi and Goodbye”. Hehe, momen kocaknya adalah pas semua orangtua panik karena Jonah kabur ke New York, si Anak Tetangga nyebut “NY” sebagai tujuannya. En. Way. Eh, bapaknya ini cewek malah ngambek, nyangkanya si anak bilang “No Way”. That’s “NW” kan ya? Haha…
  • Ini bukan lines sih, tetapi movie reference. An Affair to Remember. Debra Kerr. (“Karr or Kerr?” – kata salah satu karakter yang diperankan oleh istri Hanks). Ya, another chic movie. Film ini yang menginspirasi momen janjian ketemu di Empire State Building. Di sini, dikisahkan kalau semua perempuan yang nonton film ini pasti mewek. Hmm, saya belum bisa konfirmasi sih, karena saya kayaknya belum nonton. Hehe…
  • Her first name probably Doctor! Ini komentar Sam waktu Jonah berusaha meyakinkannya untuk mau curhat ke Dr. Marcia Fieldstone di radio. Sam adalah pribadi yang tertutup, bukan yang mudah mengekspresikan emosi, apalagi ke orang asing. Dan butuh seorang Dr. Marcia memang untuk bisa mencairkan Sam.

Ada yang belum pernah nonton film ini? I judge you. Hehe… nggak deng, ini film bagus kok. Bukan karena ini chic movie, tetapi nilai-nilai yang diisyaratkannya itu lho, membekas banget. Family bonding, new beginning, a reason to believe in love, juga perbedaan emosi pria dan wanita. Di saat perempuan mudah tersentuh dengan tayangan film-film romantis, film ini juga menunjukkan bahwa film-film itu tidak punya efek ke cowok-cowok (yang straight, maybe yes, hehe…), yang justru lebih emosional dan bisa mengharu-biru kalau membahas pertandingan olahraga.  

Film ini memang dibuat sebelum era Internet, komputer masih DOS, dengan disket lebar dan tampilan di layar cuma hitam-putih (hijau?) aja. Konflik yang dibangun nggak perlu rumit dengan intrik-intrik dan “heavy in-bed-scenes” ala-ala tayangan sekarang. Itu aja sudah keren. Long lasting. Classic. Bahkan film ini lebih membekas daripada duet Hanks-Ryan di “You’ve Got Mail” – nanti suatu saat saya bahas juga deh…

Dan satu lagi. Film ini menyentuh soal JODOH. Jodoh itu rahasia Tuhan. Kalau memang sudah berjodoh dan ditakdirkan bertemu, pasti bertemu. Azek.

8 thoughts on “Why “Sleepless in Seattle” is Amazing (for me)”

  1. hello!,I love your writing very so much! percentage we keep up a correspondence extra approximately your article on AOL? I require a specialist in this house to solve my problem. May be that’s you! Taking a look ahead to look you. |

  2. Hey there! I could have sworn I’ve been to this site before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely glad I found it and I’ll be bookmarking and checking back frequently!|

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *